Posted by: rieside | June 9, 2008

Wajah Multiwacana

Aku bukan penulis syair ataupun pemikir kontemporer. bagiku imaginasi lebih mulia daripada ilusi yang membanggakan diri, aku bisa menciptakan sendiri pemikiran-pemikiran yang tidak pernah mereka pikirkan! aku bisa pergi kemanapun aku mau, karena aku sendiri yang menciptakan imaginasi itu. sekarang kita lihat dari sudut pandang lain dimana reformasi begitu digalakkan didunia yang sekarang modern, atau mungkin sangat canggih. tapi lihat.. langkah mereka sama saja seperti dulu mereka merangkak dalam kepatuhan perintah atasan mereka! mereka tetap saja masih menjilat pangkat mereka dengan lidah yang begitu tajam, setajam pedang mungkin?! aku melihat sendiri betapa mereka merendahkan diri mereka dalam istana yang mereka bangun dengan kucuran air ludah, bukan dengan kucuran keringat hasil kerja mereka! aku menceritakan semua karena aku hidup dalam dunia mereka yang begitu fana akan nafsu dan keinginan yang tidak akan pernah habis (karena akupun memiliki itu), wajah mereka bisa mereka rubah setiap saat, karena itulah yang dibutuhkan agar kita tetap bisa eksis ditempat ini. tapi aku takkan menjadi korban mereka, karena aku hidup pula dengan wajah multiwacana yang aku ciptakan sendiri, semudah menyalakan korek api di siang hari, yang bagi orang buta sekalipun itu sangat sulit.
Sekarang kita lihat sekeliling kita, adakah jabat erat yang benar-benar tulus? seorang sahabatpun bisa menyimpan rahasia terdalam mereka dalam mulut yang terkunci, seorang pen-cinta pun bisa menyimpan rahasia mereka dalam hati yang tertutup rapat. Yang aku percaya hanyalah kasih sayang kedua orang tua yang dari aku kecil sampai detik ini aku menulis, masih bisa memberikan doa untukku. jadi dimana posisi wajah multiwacana orang-orang di sekeliling kita? adakah mereka memberitahukan bahwa dunia mereka ada dalam catatan harian mereka? adakah mereka bercerita tentang hari esok yang mungkin akan bahagia, atau terluka? tidak ada yang tahu kan.. setidaknya kita tahu bahwa mereka hidup dengan wajah multiwacana mereka yang sebagian orang ciptakan dengan terbuka, ataupun mereka buat tanpa usaha. sekarang kalian bisa membedakan bahwa aku bukan seorang penulis syair, ataupun pemikir, imaginasi yang aku ciptakan setidaknya bisa menggambarkan hiasan yang menemani kita siang dan malam.
Berjuta kata telah aku baca, berjuta lagu telah aku dengar, tapi semua terasa dungu dengan logika yang begitu miskin! apakah kalian hanya bisa mengobral sompral buaya, dan mendengar lagu-lagu tersebut dengan pemikiran kalian yang masih buta?! ah mungkin dengan caci maki penjilat-penjilat seperti kalian hatiku terasa puas, serasa mendulang air es di gurun pasir yg panas dengan nafsu bejat!


Leave a response

Your response:

Categories