Mungkin aku bagaikan sepucuk seruling yang menjadi jalan bagi bisikan waktu yang menjelma menjadi lagu dan ilalang dungu.. Aku terlambat mengobatinya dengan rindu, karena waktu telah berlalu dan hidupku bukan untuk masa lalu. Tapi dengan termenung dan menikmati sakitnya, aku merasakan bahagianya, walaupun harus aku bayar dengan air mata, dan lantunan irama sendu nan merdu ..
Sedangkan kalian berbicara hanya ketika pikiran kalian tidak tenang. Ketika tidak tahan lagi berdiam dalam hati, kalian hidup melalui bibir dan kata yang bersuara menjadi satu-satunya pengobat jiwa. Dan sebagian dari kalian berbicara tanpa memikirkannya. Karena pikiran adalah burung yang lumpuh terkurung, meski dapat merentangkan sayapnya, namun tak mungkin terbang ke langit tujuh samudra.
Di antara kalian ada yang mencari kawan yang pandai bicara karena takut akan tertimpa sepi. Padahal kesunyian yang kalian jauhi itu adalah mata yang akan membuka kekurangan diri. Dalam diri semacam ini, sang jiwa bertahta dalam irama yang sunyi, dalam keheningan penjara jiwa yang perih melukai istananya.
Di dalam keheningan yang diam, hati ini sudah tahu rahasianya, tetapi telinga ini masih rindu mendengar kecupan malaikat tuk mendengar kebahagiaan. Aku ingin meraba dengan sentuhan indera wujud nyata dari dunia impian. mata airku yang tersembunyi dalam ungkapan letupan jiwa ini harus menyembul dan mengalir ke muara menuju arah samudra. Tapi apalah dayaku sekarang, harus menempuh perjalanan jauh dari mimpiku yang terlalu tinggi, terlalu berat untuk kalian lalui..
Tapi aku terus berjalan lalu berlari.. mengejar semua mimpi yang pernah hilang, yang akan datang hingga gerbang penantian ku terbuka.. untuk menarik kesunyianku sendiri..
Posted by: rieside | June 9, 2008
Penjara Jiwa
Posted in kata hati
