12/04/07 [03.00] bangun tidur ku terus mandi. Orang-orang dirumahku masih terlelap tidur, hanya terdengar suara-suara dari lantai bawah yang juga sudah bersiap-siap. Selesai mandi, aku langsung ke rumah kerabat terdekat, karena menurut aturan aku harus keluar rumah sebelum jam 04.00 tiba. [05.00] selesai melaksanakan shalat shubuh berjamaah di masjid aku kembali kehalaman rumah, melihat keadaan sekitar, ramah tamah dengan keluargaku yang juga sudah datang. [06.00] semua kendaraan di cek ulang, semua keluargaku ditempatkan di posisinya masing-masing. 11 mobil, dan 1 bus untuk menampung kerabatku yang ikut mengantarku. Rombongan menuju sumedang melewati pintu tol buah batu, dan keluar di pintu tol cileunyi. Karena semua rombongan tidak terlihat, akhirnya ayahku memutuskan untuk bertemu dengan rombongan lain di bunderan antara cirebon sumedang. [07.45] setelah semua kendaraan ada, kami melanjutkan perjalanan kembali dan tiba di tempat mempelai wanita sekitar pukul 08.30 [08.45] aku keluar dari mobil, layaknya selebritis, jepretan kamera menghampiriku. Aku ada di barisan paling depan dengan didampingi kedua orang tuaku. Sementara yang lain mengikuti dari belakang dengan membawa barang-barang berupa “seserahan” untuk mempelai wanita. [09.00] setelah acara sambutan dari keluarga kedua mempelai, akhirnya tiba waktunya untuk kita ada di meja ijab qobul dengan didampingi oleh penghulu setempat dan saksi dari kedua mempelai. Aku mendengar dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh penghulu. Sesaat kemudian aku mengucapkan ijab qobul itu. “Tarima abdi nikahna ……….. dibayar tunai”. [rahasia] Ijab qobul itu harus aku ucapkan dalam bahasa sunda, bahasa adat setempat. Dan aku harus mengulangi kata-kata itu hingga 2 kali. Setelah yang kedua kalinya aku ucapkan, akhirnya mereka mengesahkan ijab qobulnya. Sejenak nafasku lega sekali, tenang. Setelah acara itu, dilanjutkan dengan seserahan simbolis orang tuaku kepada keluarga mempelai wanita. Setelah itu acara berturut-turut, saweran, nincak endog, sungkeman. Setelah acara selesai baru aku duduk di kursi pengantin bersama istriku yang baru saja aku sunting. [15.00] acara baru selesai, tidak nampak lagi tamu yang datang, akhirnya kami mengganti kostum raja & ratu dengan pakaian yang lebih ringan. Acara siang ini pun selesai juga. [20.00] acara dilanjutkan dengan mendengar tausiah dari ustad ternama dari kota bandung, banyak yang datang, termasuk dari tetangga sekitar. Aku duduk paling depan bersama istriku, mendengar tausiah yang memberikan kami pencerahan, bagaimana kami harus membina bahtera hidup keluarga baru kami. Kadang kala ustad itu memberikan kami humor, agar kami tidak tertidur. Acarapun selesai pukul 23.00. [23.30] karena lelah aku langsung kekamar pengantin bersama istriku, dikamar ini kami buka kado-kado dari para undangan yang hadir. Sampai akhirnya ngantuk menyelimuti kami. Yang seharusnya ini malam pertama, tidak kami lakukan, karena di sebelah kamar masih banyak keluarga kami yang ikut menginap, jadi tidak enak kalau kita berisik. Akhirnya kami pun tidur.
13/04/07 [08.00] bangun tidur ku terus makan dan bercengkrama dengan kerabat yang masih ada dirumah. [13.00] selesai shalat jumat, kami berdua pergi ke Hotel Tirtagangga di Garut, menikmati bulan madu kami tanpa ada gangguan dari siapapun. Memang lelah begitu mendera kami, tapi rasanya tertutup oleh lingkaran bahagia kami. Di hotel ini kami memesan kamar Deluxe, yang isinya begitu memanjakan kami berdua. [16.30] aku pergi ke kolam renang, sementara istriku memilih istrirahat dikamar. [20.00] kami memesan makan malam melalui telepon, sambil menonton TV kami bercengkrama. Dan tiba akhirnya waktu untuk kami melepas hari-hari muda kami. Cerita disensor sampai disini. Selamat menikmati. Heheheh
14/04/07 [11.00] check out dari kamar hotel, menuju Bandung.
The end.
Akad nikah merupakan peristiwa sangat penting yang tak terlupakan dalam perjalanan hidup seseorang. Akad nikah adalah ibadah dan lambang kesucian hubungan antara kedua jenis manusia. Berdasarkan perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya dalam kerangka melaksanakan Undang-undang No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan serta sebagai pondasi pertama dalam membentuk keluarga sakinah, mawadah, warahmah dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Karena itu, perkawinan perlu dilandasi dengan niat yang suci, persetujuan kedua orang tua dan kebulatan tekad kedua mempelai untuk hidup bersama secara rukun, harmonis dan bertanggung jawab.
Untuk membina keluarga sakinah, kedua pihak harus menjunjung tinggi hak dan kewajiban masing-masing, dilandasi saling cinta kasih, saling menghormati dan saling pengertian serta mewujudkan kehidupan yang islami dalam keluarga untuk memperoleh ridha-Nya.
