Setiap aku memandangi wajahmu di sebuah lentera malam, betapa aku merindukan senyuman itu ada di pundakku, betapa aku merindukan pelukan ada dalam kalbuku. Tapi aku tidak berada dalam tanganmu, aku tidak berada dalam jarakmu, kini dirimupun terlalu memandang aku sebagai sebuah waktu untuk menemani sisa hatimu. Kadang kala setiap aku melihat mereka terbang dalam selendang cinta, aku ingin seperti mereka membawa obor cinta bersama dalam waktu mereka. Tapi setiap aku meminta itu darimu, engkau tidak pernah mengabulkan permintaanku, engkau hanya bisa memberiku sebuah waktu untuk aku jalani sendiri, bagaikan terombang dalam lautan kesedihan, aku berjalan sendiri dalam rinduku, aku membawa bunga kematianku sendiri. Aku hanya bisa menangisi setiap waktuku sendiri. Apakah aku harus selalu menangis dihadapanmu, dihadapan mereka yang membawa cinta mereka. Pernah aku melihat sebuah cinta sejati melepaskan kerinduan dalam kebutaan mata mereka. Apakah aku harus seperti itu? Menangisimu, merindukanmu, menantimu datang dalam kerinduanku. Meskipun aku tahu bahwa dirimu tidak pernah bisa seperti diriku, yang lebih rela melihat dirimu bahagia, dengan atau tanpa diriku. Kini beban yang ada dalam pundakku begitu berat untuk aku pikul, betapa aku menangis untuk memanggilmu ada dalam pelukanku. Apakah aku harus bisa melepaskanmu melihat bahagia dengan orang lain, atau haruskah aku menahan beban ini sendiri, sedangkan dalam hatiku, dirimupun ada disini, yang dulu membuat pagar cahaya bersama, yang dulu membangun sebuah lautan kebahagiaan. Betapa dulu aku merasakan bahagia, begitupun dengan dirimu, begitupun dengan hari kita yang selalu bersama. Tapi kini hari itu, waktu itu telah hilang membayang dalam lorong malam yang tak pernah berujung. Jika saja dirimu tahu setiap aku menangis, jika saja dirimu tahu setiap aku memanggilmu, mungkin kau tidak akan tega membiarkan aku tenggelam didalamnya. Tapi sayang dirimu tak pernah bisa mengerti angan yang ada dalam hatiku, kau hanya membiarkan hatiku untuk bersama waktu tanpa kehadiranmu. Apakah aku masih kurang menuruti keinginanmu? Padahal setiap dirimu ingin aku seperti angin, aku bisa. Setiap dirimu ingin aku seperti batu, akupun bisa. Bahkan setiap dirimu minta aku menangis, aku pasti memberikannya hanya untuk dirimu, meskipun harus dibayar oleh air mata darah sekalipun. Dan meskipun dirimu takkan pernah tahu tangisku, aku takkan memaksa dirimu untuk tahu keadaanku. Aku hanya berharap kau bahagia. Dan aku rela jika hatiku harus kau jajah untuk kemenangan egomu. Aku mempunyai mimpi jika suatu saat aku bisa membuatmu mengerti akan bebanku ini. Menjadikan bintang polaris tanpa tersesat dalam lembaran perjalanan kita. Bersama memikul beban yang ada dalam jiwaku.

Dahsyat….!!!!!!
Sumber Inspirasi…..
Jagoan dah pokoknya klo suruh buat yg puitis2…..
Heheheeeee
By: Nurul Rohmansyah on July 28, 2009
at 7:22 am