Posted by: rieside | June 9, 2008

Hantu Itu Bernama Cedera!

Dalam sepakbola, unsur kejutan di banyak kesempatan terkait dengan hasil akhir. Tapi bagi seorang pesepakbola, bentuk suspense paling menggetarkan dan mengerikan bisa jadi adalah cedera.
Dimulai dari sudut pandang lain.. Pada tahun 2001, pada waktu itu saya masih aktif mengikuti kejuaraan-kejuaraan beladiri Pencak Silat mewakili padepokan silat Santika Daya Setra yang berbasis di Kota Bandung. Dari mulai POPPKOB, GPK, WALIKOTA CUP, hingga KEJURDA. Pada tahun 2000 pertama kali saya mengikuti kejuaraan POPPKOB ketika itu prestasi saya hanya sampai partai perempat final, sebuah awal yang baik bagi pesilat junior seperti saya. berturut-turut mengikuti beberapa kejuaraan antar perguruan baik intern maupun luar daerah.

Pada tahun berikutnya saya berhasil memboyong medali Perak di kejuaraan POPPKOB 2001, di Final saya dikalahkan pesilat dari perguruan Tadjimalela, bagi beberapa pesilat yang sering mengikuti kejuaraan, pasti hafal nama itu. Bukan tanpa perjuangan saya berhasil mencapai partai final, karena perjalanan panjang itu membuat segenap raga ini memar-memar. Dan klimaksnya ada di partai puncak, ketika itu kaki kanan saya berbenturan atau bisa dibilang teckle yang sangat keras sehingga saya harus terjatuh dan tak sanggup berdiri lagi. Tapi waktu masih ada, dan beberapa kerabat, pendukung, maupun pelatih memberikan saya semangat juang yang tinggi sehingga saya bisa menyelesaikan pertarungan sampai akhir, meskipun dengan kaki kanan yang terpincang-pincang.

Lelah memang, tapi bahagia tiada tara, karena dengan penampilan saya di partai puncak tadi, saya terpanggil untuk mengikuti seleksi pesilat untuk Kejuaraan Daerah (Kejurda) di Bekasi mewakili Kota Bandung.

Selepas pertandingan-pertandingan kemarin, saya masih belum sembuh dari cedera engkel, yang pertama saya alami. Saya pun cukup pesimistis untuk sembuh sebelum gelaran Kejurda dimulai. Setelah beberapa minggu dari cedera, saya harus mengikuti latihan persiapan mengikuti Kejurda, walaupun dengan kaki sedikit nyeri karena belum sembuh total, tapi saya berusaha tidak menunjukkannya kepada team pelatih. Tapi karena memang saya memaksakan untuk ikut, akhirnya saya cedera kembali pada latih tanding bersama rekan satu team Kejurda. Dan menjelang pemberangkatan ke Bekasi, saya memutuskan diri untuk tidak mengikuti kejuaraan. Sedih memang, tapi ini yang terbaik sebelum kaki saya benar-benar hancur.

Setelah beberapa bulan kemudian, saya tetap berlatih di padepokan sampai akhirnya saya mendapat sabuk Merah, dan membimbing pesilat-pesilat yang lebih muda. Karena kesibukan kuliah pun, akhirnya saya mengurangi aktivitas itu. pada intinya.. dari latihan, ujian sabuk sampai kejuaraan, telah saya lalui dengan kaki yang kuat sampai akhjir!

kembali ke sudut pandang sebenarnya.. Di dunia perkuliahan, saya lebih fokus untuk mengikuti sepakbola/futsal. Karena bakat saya dari kecil adalah sepakbola, bukan pencak silat. Selama 3 (tiga) tahun saya pernah mengikuti Sekolah Sepakbola Indonesia Muda. Selama 3 (tiga) tahun pula saya berhasil menjadi juara Futsal Porka di kampus selama 2kali berturut-turut, juara pertama turnamen Futsal Intern BSD Cup. Tapi cerita itu bukan tanpa masalah. Karena saya tetap masih harus bergelut dengan cedera engkel. Total 8 kali sudah saya mengalami cedera engkel ini dan sampai sekarang masih tetap menghantui manakala saya bermain sepakbola atau futsal. Terakhir kali cedera ini saya alami pertengahan desember 2007. Sudah beberapa orang yang coba mengobati, tapi semua hanyalah pengobatan sementara, karena cedera ini tidak akan pernah sembuh, dan saya hanya bisa menjaga agar saya bisa tetap ada di dunia sepakbola, dunia yang begitu saya kagumi.

Bagi sebagian orang, bagi sebagian pesepakbola di dunia, dimanapun, lepas dari cedera engkel, ataupun cedera2 yang sudah permanent tidaklah mudah. Ini bukti, bukan berita.

An ankle sprain is the most common injury to the ankle and the long term consequences of an ankle sprain is a common cause of chronic ankle pain. The most common type is the inversion ankle sprain, in which the ankle rolls over on the outside.

An ankle sprain is the stretching and tearing of ligaments – in the sprained ankle the most common damage is done to the talo-fibula ligament (if the ankle sprain is worse, the calcaneo-fibula ligament can also be damaged) – sometimes the tendons also get damaged.

Anything that makes the ankle ‘tip over’ increases the chance of an ankle sprain – this can occur in sport (eg jumping and landing on someone’s else’s foot), walking on uneven surface, twisting motions etc.

A number of factors predispose to ankle sprains:

Poor rehabilitation of a previous sprained ankle. Poor proprioception (proprioception is the ability to sense where a joint is …. if you don’t know where your ankle is, the muscles will not be able to prevent the ankle sprain). Some feet are very easy to ‘tip over’ – this is common in those who frequently ‘roll the ankle’, without actually doing any damage and spraining the ankle. Weak muscles (they are just not strong enough to prevent the sprain occurring).


Leave a response

Your response:

Categories